Dia adalah sosok pejuang cinta sejati,
menanti cinta nya tanpa kenal lelah. Dia adalah pemerhati pujaan hatinya, dia
terlihat selalu mendampingi sebisa mungkin, dia begitu menanti kabar, dia
sangat berharap dapat dibalas pesannya, dia sangat romantis, dia sangat suka
memuji, dia seperti pujangga cinta, yang menulis setiap kisahnya, setiap
detailnya, mungkin agar dia ingat bagaimana perjuangannya, dan dia tahu betul
apa yang dia sukai, dia yang selalu punya trik untuk menghabiskan waktu
bersama, dia yang melakukan hal-hal mengejutkan agar terlihat special, dia yang
selalu berkomunikasi, dia tahu momen apa yang sangat dia sukai saat bersama,
Dia, dia yang penuh cinta, dahulu, dengan
orang lain, saat dia tidak mengenalku.
Aku?
Ya, memang aku yang kini ada di sisinya.
Namun bukannya aku tidak bahagia, aku sangat
bahagia, dia adalah sosok yang memang layak untuk dicintai.
Tapi, jika dahulu -seandainya benar- dia lebih dari ini,
kurasa ada yang ganjil di benakku.
Aku tahu betul dia mencintaiku, bahkan dia
sangat mencintaiku
Tapi bagaimana dia menunjukkan rasa cinta
itu, tidak seperti dahulu dia tunjukkan ke orang lain itu.
Dia yang sekarang lebih cuek, lebih simple, tidak puitis, tidak ekspresif, tidak pamer,
Dia yang sekarang lebih cuek, lebih simple, tidak puitis, tidak ekspresif, tidak pamer,
Aku berpikir, mungkin karena dia sekarang memang sudah jauh lebih dewasa, beda dengan dulu.
Sebenarnya, aku hanya perlu bersyukur.
Aku hanya perlu mengingat bagaimana dia sangat merindukanku saat kita jauh sekian lama, dibandingkan bersedih-sedih saat dia begitu cuek saat aku mencari perhatian lewat chat
Aku hanya perlu mengingat bagaimana dia mendoakan masalahku, dibandingkan aku kesal saat aku ingin cerita tapi dia sibuk, tidak fokus, dan tidak ada waktu
Aku hanya perlu mengingat bagaimana dia menangis menatap mataku, dibandingkan aku bersedih-sedih saat dia tidak ingin mengupload apapun tentangku, memujiku, menulis sesuatu tentang apa yang ia sukai dariku
Aku hanya perlu mengingat bagaimana dia memikirkan masa depan bersamaku, dibandingkan aku galau saat dia tidak menyiapkan sesuatu di hari ulang tahunku
Aku hanya perlu mengingat bagaimana dia marah saat sinyal terganggu selagi meneleponku, dibandingkan aku sedih saat dia tidak mengabariku sama sekali
Aku hanya perlu mengingat akan apa yang aku dapat sekarang, dan apa yang kami jalani berdua, dibandingkan semua yang dia lewati dahulu
Memang rasa syukur ini sangat sulit dijalani, apabila aku selalu membandingkan nya dengan hal lain, yang -menurutku- lebih baik.
Dan aku seharusnya yakin, apa yang dia lakukan sekarang terhadapku, itu jauh lebih baik dari yang ia lakukan dahulu bersama orang lain.
Aku hanya perlu menguatkan hatiku sendiri, aku hanya perlu mengurangi rasa cemburu, dan sifat kekanakanku
aku hanya perlu, Bersyukur.
Bersyukur atas kehadirannya, yang kini sedang berjuang agar dia bisa hadir selamanya dalam pagi dan malamku.
