Kamis, 25 Desember 2014

Sendiri

Aku membuka mata dengan sebuah kenyataan
Kenyataan bahwa aku menjalani hidup baru yang sangat berbeda dengan sebelumnya

Aku mulai menyibukkan diri dengan segala kegiatan
Aku tidak izinkan satu waktu pun kosong didalam otakku
Karena jika itu terjadi, aku akan berubah jadi pendendam yang menyimpan benci
Benci yang tak seharusnya aku simpan, karena mendapatkan benciku saja dia tidak patut
Dia tidak patut menerima apapun dariku


Telepon ku berbunyi
Kupandangi layar handphone dengan geram
Telepon dari nomor yang tidak kusimpan, tapi aku tahu betul siapa pemilik nomor itu
Entah apa yang ada didalam pikirannya sampai masih mencoba menghubungiku?
Apa dia tidak bisa menerima kenyataan yang dia buat sendiri?
Apa dia tidak bisa paham bahwa cinta bukan berarti aku bisa menerima keadaan?
Apa dia satu-satunya pria gila yang berpikir bahwa hatiku adalah mesin yang bisa diatur?

Ku reject telpon nya
Tak lama masuk sebuah pesan
"Setidaknya balas pesanku, kalau kamu tidak mau angkat telpon ku"
Aku menangis. 

Apapun alasannya, aku tidak mau mengenalnya lagi sampai kapanpun.

Tapi...

Bukan hanya dengan dia
Aku juga tidak ingin mengenal siapapun
Aku hanya ingin denganku,


Sendiri.
Read more ...

Selasa, 15 Juli 2014

Insecure

Telepon berdering, ada telepon dari nomor yang tidak kukenal
Aku abaikan, pikirku kalau penting dia akan SMS
Tapi tidak. Telepon itu terus berdering.
Menyebalkan

"Halo?"
"Halo saya yang chat kamu di facebook" ujar seseorang di balik telepon, suaranya tak asing
"Oh ya?" sambil mikir, siapa yang chat ya?
Kemudian dia mengucapkan sebuah nama. Tapi aku gak yakin ini telepon dari orang yang chat tadi.
Soalnya aku gak kasi no hape, dan kayaknya aku familiar dengan suara ini.

"Gimana bisa bantu saya?"
"Maaf ya aku kan udah bilang nanti aku kabarin.." Ujarku menolak. Menolak karena sebenernya aku tahu yang telpon ini bukan orang itu.
Lalu aku matikan telponnya.

Aku yakin itu pacarku.

Kemudian telepon berbunyi lagi
"Kamu gak mau bantu? kok kamu sombong sih?"
"Udah dulu ya saya lagi dikampus" aku matikan lagi telpon nya

Tiba-tiba datang sms masuk
"Hahahahaha.. galak banget bu.. ini abang de.."
Aku tidak tertawa membaca smsnya.
Aku merasa terganggu.

"Udah tau"
"Oh jadi kamu udah tau? Makanya kamu tolak ya? Mungkin kalau gatau telponnya bisa berlanjut ya?"

Aku  menghela nafas.
Baik sih cemburu, tapi gak berlebihan juga.
Toh aku masih dalam batas wajar dalam berteman.
Yang aku heran, niat banget dia beli beberapa kartu perdana untuk coba-coba test-test aku
Test kesetiaan katanya

"Terserah lah, gak usah ngajak berantem dulu, aku lagi kuliah, pusing"

* * * * *

Kubuka facebook ku.
Aku kaget melihat daftar teman yang diblokir disana.
Ternyata ada banyak cowok-cowok yang diblokir.
Banyak juga pesan facebook yang dibalas olehnya, tanpa aku sadar.

Argh.. ya sudahlah.
Gak penting.
Udah terlanjur juga.

Kuambil handphone ku dan mengetikkan pesan

"Blokir lah semua teman cowo di facebook ku, sampai isinya cuma cewe semua, kalau itu bikin kamu merasa aman"

Setelah itu kumatikan handphone ku, aku tak ingin membaca balasannya.

Read more ...

Selasa, 17 Juni 2014

Sedikit Ruang Hampa

Kadang butuh ruang hampa untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi,
Di saat kata tidak mampu lagi mengisyaratkan maksud hati.
Haruskah aku bersembunyi? Agar tak bisa lagi mataku berlinang menangisi?

Tak mungkin kubiarkan harapan ku begitu saja sirna.
Sedangkan sudah beribu doa yang kupanjatkan.
Menyerahkah kita pada keadaan?
Kita seharusnya tetap kuat untuk bersama.

Sedikit kemungkinan pun tidak jatuh di pihakku
Berharap Langit menjatuhkan Hujan nya di Rumput yang kering

Ya. Semua orang tahu ada yang salah.
Tapi tak seorang pun tau apa yang terjadi.

Aku hanya bisa menikmati Angin yang menusuk jantungku
Membiarkannya terus mengalir dan menghancurkan hatiku
Membagi kesakitan ini pun aku tak sanggup
Karena tanpa mengetahuinya pun kamu hancur

Jika memang harus terbang lepas,
pergilah yang jauh.
Aku akan tetap disini, di ruang hampa, sampai aku tahu kenapa, dan pergi juga.


Read more ...