Selasa, 21 Maret 2017

Turning Back (Part 4)

David bercerita banyak hal,  seperti biasanya, dia adalah orang yang vokal
Dia mampu memimpin pembicaraan, dan biasanya setiap kata yang keluar dari bibirnya bagaikan sihir bagi telinga gue,
Tapi enggak dengan sekarang,

Gak ada satupun kata-katanya yang masuk ke telinga gue
Gue gak konsen, gak bisa masuk ke pembicaraan mereka, apalagi saat mereka mulai membicarakan cewe-cewe cantik, membuat gue muak dan mulai membuka sebuah kalimat

"Na, kenalin gue lah ke temen lo, orang batak gitu yang ganteng di kantor lo"
Nana kaget melihat gue melontarkan kalimat itu, tapi dia tetap menjawab pertanyaan gue
"Ada nih orang kantor gue itu loh Ra, si Charles"
"Ooooh Charles, tapi dia kan lagi suka sama orang?"
"Yaelah raa, kaku aja lo, kenalin mah kenalin aja, ya nggak?"
Gue mengernyitkan dahi,
"Charles? Kayaknya gue kenal deh"
"Iya, cakep kok orang nya lumayan baik juga. kalau mau ntar gue sepik-sepikin"
Gue cuman senyum tanpa menanggapi, karena gue cuma mau mengalihkan pembicaraan

* * * *

Malam hari itu, gue berdoa.
Gue sedih banget sebenernya karena pria yang gue harapkan ternyata gak sesuai dengan ekspektasi gue
Pria yang gue bayangkan akan mengisi masa depan gue ternyata gak sebaik apa yang gue kira,
Dan gue sedih karena gue berdoa, minta Tuhan untuk mengalihkan pikiran gue dari dia
Gue mau move on, gue mau berhenti menanti orang yang -sekarang- tidak layak gue nanti


* * * *

"Woy, charles minta nomor lo, kasih nggak?"
"Lah, kenapa bisa minta? lo ceritain gue nyari kenalan?"
"Kagak gue nanya aja ama dia, kenal gak sama lo, dia bilang kayaknya kenal.. eh beberapa hari kemudian dia minta nomor lo"
"Yaudah kasih aja, buat temenan doang mah gak masalah"

Malamnya, ada chat masuk di facebook, dari Charles
"hai anya"
Saat itu gue lagi pergi makan bareng sahabat gue, Della.
Chatting dengan Charles malam itu pun cuman sekedar basa-basi sok kenal, gapenting dan sok asik

"ntar kalo mau apa apa whatsap boleh kan ya..."
Dalam hati gue berpikir, mau apa-apa apaan emang? ada urusan apa sampe harus ada apa-apa an?
tapi karena gue orang nya ramah dan sok asik, gue bales dengan sopan

"iya, udah ada no nya?" gue bales gitu karena gue tau dia udah minta nomer gue ke Nana, tapi seharusnya gue bales iya aja yah... gausah nawar-nawarin nomer segala.. hahaha

"boleh, sini lah" bisa gengsian juga ni orang, pura-pura nya belum dapet nomer gue padahal udah ada.

seperti yang biasa gue lakukan ke orang yang minta kontak gue, Gue paling anti kasih nomor hape.
Karena kalau mereka annoying, gue akan terganggu banget karena mereka paling enggak bisa ganggu via sms atau telpon. Kalau sekedar BBM, Line atau Facebook, kalau annoying kan bisa di block! h3h3h3
Ke Charles gue melakukan hal yang sama

"Pake line gak?"
"Ada sih, cuma kurang asik mau pake line aja?"

Karena males, dan gue juga tau sebenernya Charles punya nomor gue, yaudah gue kasih aja nomor hp gue..

Mulai dari situ, Charles mulai rajin Whatsapp gue.

- to be continued
Read more ...

Jumat, 17 Maret 2017

Turning Back (Part 3)

I never thought that i'm so strong, I stuck on you and wait so long
But when love comes it can be wrong
Don't ever give up just try and try to get what you want
Cause love will find a way...

Cuma karena lagu ini, gue setia menyukai orang sekiaaaan lama.
Karena gue yakin banget, cinta yang akan menemukan jalannya
Halah jijay banget gak sih?

* * * *

"I tell you, don't judge a book by its cover. cuma itu yang bisa gue bilang ke lo" Tanggapan febrian mendengar curhat gue
"What do you mean?" Gue seperti gak terima dengan tanggapan itu
"Gak apa-apa, gue cuma gamau lo suka sama orang cuman karena lihat tampak luarnya aja, lo harus bener-bener tau, apakah lo bener-bener suka sama dia, dalam arti sampai ke dalam kepribadiannya, atau cuman tampak luarnya aja? Just tell me"
"Hei, udah hampir setahun gue bareng dia, dan gue rasa fine-fine aja Feb"
"Dalam setahun ketemu aja cuma berapa kali.. tapi ya terserah lo, gue cuma bilang itu.. kalau emang lo suka dia beneran, ya go ahead. Kejar mimpi lo.." Febrian mengakhiri tanggapannya
"Oke feb gue tampung 'peringatan' lo, kalau lo bisa komen gitu, gue yakin itu karena lo tau banget gue ini gimana.."

* * * *

Is there something wrong?
Apa mungkin Febrian ngomong gitu karena tau gue orangnya gampang bosen? atau, ada hal lain?
Gak mungkin masalah ada di David.
Gue suka cowo tinggi, David tinggi
Gue suka cowo ganteng, David ganteeeng banget kata gue
Gue suka cowo yang pelayan Tuhan, David pelayan Tuhan luar biasa
Gue suka cowo dewasa, David dewasa! sepengelihatan gue sih
Gue suka cowo mandiri, David mandiri! eh... mandiri gak ya? mandiri kok!
Gue suka cowo pekerja keras, David..... ehm, kayaknya sih dia pekerja keras kok!
Gue suka cowo yang lembut dan romantis, David........... kalau punya pacar, kayaknya sih romantis
Gue suka cowo yang.........

Semua kriteria di kepala gue buyar.
Tiba-tiba yang gue seperti tersadar akan sesuatu hal, bahwa saat kita menyukai orang, semua hal kita paksakan cocok. Saat dia tidak terlihat dewasa, kita anggap ya dia dewasa. Dan sebagainya
Tapi, gue tetep mau mengkonfirmasinya sekali lagi
Gue yakin, David adalah kriteria gue. Yakin, seyakin-yakinnya

* * * *

Hari ini seharusnya jadi hari yang menyenangkan, karena David ulang tahun
Gue sudah mempersiapkan kado ulang tahun, sebuah kado yang -gue tahu- dia inginkan
Tapi, tak semenyenangkan yang gue kira.
Gimana bisa, David diam aja saat gue dan Ethan ribut cuma perkara gue gak mau naik motor malam-malam.
Bukannya cowo itu nalurinya ya melindungi cewe?
Dengan santai dia menunggu perselisihan kita selesai, dan berujung gue tetap bawa motor dengan keadaan hari sudah larut malam.

Dengan geram kusetir motorku cepat, ingin rasanya kubanting kado ulang tahun yang ada di tas ku untuknya,
"Sabaar. sabar! hati hati, duuuh.. lagian kenapa ya mereka kok pada diam aja ya?" Nana menenangkanku
"Denger yaa! Semua cowo yang ada disitu tadi, bener-bener kelewatan, mana sikap kecowokannya, dengan tega dia biarin kita malem-malem naik motor gini!!!"

Tiba-tiba, kayak sinetron alay di TV, muncul suara bergema di telingaku
I tell you, don't judge a book by its cover..
Febrian!!

Seketika semua perasaan suka-ku meluntur
Semua 'judge' gue tentang dia sirna, pudar, hilang
Penantian gue selama hampir 9 tahun ini dengan tanpa disayang-sayangkan, mulai hilang dan kabur
I don't like him, anymore.

Sepertinya..

-to be continued-

Read more ...

Turning Back (Part 2)

"HAAATCHIII!!"

Sebulan sekali, entah kenapa, gue selalu sakit.
Sakit yang sama, pusing kepala, flu, batuk dan kawan-kawan nya.
Dan yang paling gue benci dari sakit adalah, wajah gue bener-bener gak terkontrol,
Kayak orang belum mandi, dan pasti keliatan kucel.

Kalau lagi sakit, gue pasti gak dandan, dan gak good looking banget (menurut gue)
Hari itu, hari sabtu. Masih hari kerja, tapi agak santai,
Gue berangat kerja dengan baju kuning tipis supaya adem dengan celana jeans andalan,
Rambut dicepol tinggi, pake sendal jepit dan tas kecil, dan gak lupa, muka ditutupin masker.

Dengan lunglai gue masuk ke dalam lift.
Karena lantai tujuan gue adalah lantai 7, lantai paling atas, gue gak langsung tekan tombolnya. Biasanya baru gue tekan kalau orang-orang udah turun di lantai tujuannya masing-masing
Gue berdiri di tempat andalan, dideket pintu keluar.
Beberapa orang masuk ke dalam lift, tiba-tiba berdiri di depan gue seorang cowok,
Dia berdiri tepat di hadapan gue, memegang handphone, dengan headset di telinganya
Gue lihat gerak-geriknya, dan dia menekan tombol lantai 7.

Siapa nih orang? kok ke lantai 7 ya.. 

Lantai 7 di tempat kerja gue cuman diperuntukkan kepada karyawan office.
Selain itu pasti pake seragam perawat atau apotek dan sebagainya
Tapi ni cowo, pake baju nya bisa dibilang keren yang pasti dia bukan karyawan lantai 1 sampai 6
Cowok ini menghadap ke tombol-tombol lantai yang ada di dalam lift, yang bikin gue gabisa merhatiin wajahnya.
Cowok ini mulai bersenandung mungkin karena lagu yang dia denger asik, sambil menggerak-gerakan kepala yang mungkin sesuai dengan beat nya.

Weird banget, udah gaya nya sok keren, sok asik, kayak alay gitu.. gak banget deh

Tiba-tiba cowo ini memalingkan kepala nya ke belakang, dan gue rasa wajah dia gak asing lagi.
Gue yakin dia kenal gue. Gue benerin posisi ID Card gue, dengan harapan dia ngeliat nama gue
Dan yapp. Dia melihat ID Card gue dan melihat wajah gue, gue langsung memalingkan muka ke pintu dan

TING!!!

Pintu lift di lantai 7 terbuka
Si cowok keluar, dan gue ikut keluar.
Ternyata dia masuk ke gereja yang ruangannya ada di lantai 7 kantor gue.
Gue jadi yakin banget pasti ini orang yang pernah chat gue di facebook..

Sesampainya di meja kerja gue, gue langsung buka facebook dan cari nama nya di daftar teman
Gak ada
Gue cari di daftar inbox. ADA! tapi hitam, kayaknya diblokir sama mantan gue.
Gue pergi ke daftar blokir dan bener nama nya diblokir!
Gue perhatiin profile picture nya, dan gue yakin orang ini orang yang gue temuin di lift tadi.
Karena gak merasa dirugikan, akhirnya gue klik unblock di daftar blokir gue.

"Annnn, itu di gereja lagi ada acara apaan? Rame banget??" Fitri teriak dari meja kerjanya menanyakan keramaian di ruangan gereja sebelah. Seakan semua kegiatan gereja disini guelah panitianya. Gue langsung nyamperin fitri
"Gak tau juga gue, mau ikutan? hahaha"
"Ikut tapi marawisan ya gue?"
Tiba-tiba gue inget cowo tadi
"Eh liat gak tadi ada cowo yang gaya nya agak agak keren gitu, tapi yaah ga cakep-cakep banget lah"
"Ada - ada, tadi make headset kan??"
"Iyaa, coba deh liat sama foto ini, dia kan ini?"
Fitri mengambil handphone gue dan melihat foto cowo ini
"Iya beneer, ini cowo yang tadi deh kayaknya an"

Hanya berlangsung sampai situ, kemudian gue kembali curhat tentang David, sampai jam pulang tiba
Yahhh, gue rasa hari sabtu memang gini, gak berguna
Masuk kerja gak ada yang harus dikerjain, hasilnya cuma magabut doang. Dikasi gaji tapi gak ngapa-ngapain.

* * * *

Sampai rumah, gue minum obat supaya gak pusing, karena hidung udah meler banget.
Setelah minum obat gue mulai ngantuk, tapi biasanya gue harus main hape dulu sampe ketiduran.
Iseng, gue buka facebook dan mulai buka profile cowo tadi

Charles S.........

Profilenya langsung kebuka, dan dengan ngantuk, gue tekan tombol "Add as a friend"

- to be continued


Read more ...

Turning Back (Part 1)

"Gilaa, gila. salut sih gue sama lo, nunggu 8 tahun demi cowo idaman lo???" Nana terperanjat mendengar cerita ku.
"Santai, santai.. selama 8 tahun itu gue gak menjomblo sih sebenarnya, tetep pacaran sama orang lain"
Tapi dari tatapan mata Nana, masih keliatan kalau dia masih bingung kenapa gue bisa setia banget suka sama orang.
"Apa yang bikin lo sampe rela ngabisin waktu buat nungguin dia?"
"Yaaa, karna dia tipe gue bangeeet, dia anak Tuhan, pelayanan, dewasa, tinggi, ganteng, orang batak, pinter, relasinya luas yaa banyak lah hal-hal lain yang gue suka"

Sebenarnya masih banyak hal yang gue gak tau tentang dia, sebut saja David. Karena selama 8 tahun suka sama dia, gue gapernah deket sama dia. baru memasuki tahun ke 9 inilah gue mulai deket sama dia.

"Ya gue doain laaah ya semoga jodoh"
"walaaah kalau sampe jodoh, gue bikin novel nih kisah cinta gue!!!!" tiba-tiba gue senyum-senyum sendiri

* * * *

Malam hari gue mengingat bagaimana pertama kali gue bisa jatuh hati sama David. Gue masih inget banget waktu dulu gue ngeliat dia, gue langsung mengidolakan dia. Bukan cinta pada pandangan pertama, tapi karena dia emang cocok di idolakan -menurut gue waktu itu-

Gue cukup berani, 8 tahun lalu, gue chat dia duluan di facebook, gue coba-coba sms basa basi, kalau ada kesempatan gue minta foto.. sebenernya gak lebih kayak artis dan fans nya, tapi gue seneng aja, dan gue tetep simpen perasaan gue dalam hati dan yakin kalau gue bener-bener suka sama dia, dan berharap dia yang bisa jadi masa depan gue #halaaah!

Bahkan dulu, gue simpen foto dia di dompet, gue suka ajak omong tu foto, gue bayangin kalau gue sama dia udah deket banget, dia jemput gue dirumah buat dinner, dia sms dan telpon gue dan semacamnya. berkhayal kalau dia udah jadi pacar gue.

Cuma khayalan, khayalan itu terjadi bertahun-tahun, bahkaaaan saat gue punya pacar!!
Seringg banget gue berantem sama mantan pacar gue yang terakhir karena dia.
Karena gue selalu berpikir, semua pacar yang gue sukain, gak tipe gue banget, tipe gue itu cuma David, David, dan David. titik, gak ada koma.

Kadang, gue gamau deket sama orang, cuman karena gue berkhayal David ini lagi suka sama gue, dan gue takut David mundur karena liat gue deket sama orang lain,, oh MAN! segininya gue menjaga hati gue demi dia.....


Bahkan, setiap malam, gue mendoakan dia.

* * * *

"Kriteria cewe gue??" David mengernyitkan dahinya, mempersiapkan jawaban dari pertanyaan gue
"Gak banyak, cukup berwawasan luas dan cantik. Gak salah dong gue kalau mau punya cewek cantik??"
Gue tertawa, yaaah, dikit-dikit gue bisa masuk dalam kriteria itu lah, gue lumayan pinter kok and gak malu-maluin banget kalau dibawa kemana-mana
"Udah punya gebetan yang sesuai kriteria lo??"
"Yahh, sejauh ini sih enggak ya"
Yash! tandanya gue gapunya saingan, tapi sedihnya lagi, berarti David gak lagi nyukain gue.
Tapi seenggaknya, ada -sedikit- harapan

Selanjutnya, ada beberapa banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh teman-teman lain kepada David, yang membuat gue mendengar banyak hal tentang pacaran menurut pandangan dia,
Yang semakin meyakinkan gue kalau dia bener-bener tipe gue, bener-bener orang yang gue cari, dan gue rasa kalau sama dia, gue bisa bahagia.

Penasaran, gue melontarkan pertanyaan dengan berani
"Sebenernya, kalau cewe ngedeketin lo, lo ilfeel gak?"
"Ya tergantung, kalau ngeganggu, ya ilfeel. tapi kalau nggak ya bisa jadi gue jadi suka juga ama dia"
Gue berpikir keras, berarti dia gak keganggu ama gue, buktinya dia mau ajak gue nongkrong bareng -yaaah walaupun ramerame-
Yaaa sebenernya sih dia pasti gatau kalau gue suka sama atau ngedeketin dia, karena gue gak pernah nunjukkin sama dia dan siapapun soal perasaan gue. Orang yang gaktau gue, ga akan tau kalau gue suka sama dia karena sikap gue bener-bener gak nunjukkin kalau gue suka sama dia.

Karena itu, terlintas lagi pertanyaan buat dia -tentang perasaan gue ke dia-
"Gimana caranya, misalnya gue suka sama cowo, dan gue pengen cowo itu yang deketin gue?"
"Lo cukup kasi dia kode, sekalii aja, nanti tu cowo bakal gerak"

Hemmm, apa mungkin karena gue gak pernah kasih kode, makanya dia gak deketin gue??
Ah, terlalu banyak menghayal. Mending gue sudahin pertanyaan omong kosong ini sampai disini, daripada terlalu banyak khayalan yang bertambah di hari ini.

Malam ini kembali berakhir, dengan sejuta perasaan yang mengambang dan khayalan yang berkeliaran di otak gue.

- to be continued -
Read more ...