Selasa, 20 September 2016

Choleric vs Phlegmatic

Kalau sebelumnya kalian baca blog gue dengan kata-kata puitis,
Harap maklum, obsesi jadi pengarang novel dulu.
Kali ini, gue mau nulis dengan bahasa normal.

Gue sekarang masih dikantor, ketawa-ketawa setelah melewati pertengkaran panjang dengan sang kekasih, yang sangat aku cintai.
Biasa lah, masalah prinsip. Gue memegang prinsip yang gak bisa dan gak mau gue toleransi, karena menurut gue kalau itu dibiasain, akan kebawa sampe dewasa nanti bahkan sampai -kalau kami berjodoh- nikah nanti.

Sebelumnya agak dikenalin dulu
Gue adalah cewe dengan kepribadian Choleric. Termasuk cewe yang keras kepala, merasa bahwa jalan gue adalah jalan yang paling benar, dan akan berusaha agar orang mengikutinya.

Cowo gue adalah cowo dengan kepribadian Phlegmatic. Tipe cowo yang cinta damai, gak mau ribut, 
kalau bisa gak usah muncul di permukaan itu masalah biar gak kebawa ruwet.

Kata orang, Pasangan dengan tipe Choleric - Phlegmatic itu adalah pasangan yang cocok. Karena apa? Si Choleric yang Berkuasa dan Si Phlegmatic yang Penurut akan menjadi kolaborasi yang luar biasa, karena tidak akan ada perpecahan dari "minta meminta" atau "atur mengatur" dan "nurut menurut"

Tapi ternyata setelah dijalanin, you know what? Ada satu masalah serius yang mungkin bisa dihadapin oleh Pasangan Choleric-Phlegmatic ini.

Apa kah itu ??

Apabila , si phlegmatic akan melakukan sesuatu yang dia tau si choleric gak suka, tapi kudu dijalanin, dia tidak memunculkannya ke permukaan agar tidak ada masalah, karena dia cinta damai, dia gak mau buat-buat masalah, tapi saat suatu ketika si choleric menemukan bahwa phlegmatic menyembunyikan hal itu, BOOM!

Choleric akan meledak dengan sangat, karena apa yang dia inginkan gak berjalan lancar.
Choleric tau betul apa yang ingin dia capai, dan seperti apa prosesnya, so saat dia tau gak berjalan sesuai jalan nya, dia akan meledak-ledak dan akan mulai memaparkan apa yang salah dari kejadian tersebut. Dia juga akan menjelaskan kenapa dia marah, dan dia tidak akan berhenti sampai Phlegmatic paham apa maksud dia.
Kemudian, si phlegmatic akan meminta maaf, tapi si choleric akan berpikir bahwa permintaan maafnya hanya supaya cepat damai. (Apa iya si gue nethink-an gini?)


Nah gitu lah, itu gue ngenalin sambil ngejelasin juga yang baru gue alamin. Gue kesel abis karena gue udah kasitau dari awal apa yang gue mau, tapi dia gak jalanin. 
Tapi lo tau gak? 
Apa juga benefitnya Choleric berpasangan sama Phlegmatic?
Saat Choleric meledak-ledak, Phlegmatic akan tenang dan santai menghadapinya walau dalam hati dia panik juga. Dia berusaha meredam suasana, meminta maaf, saat ada kesempatan ngomong dia akan jelasin kalau dia ngerti apa maksudnya, kemudian mulai mengeluarkan kalimat-kalimat perdamaian.
Karena Phlegmatic orang nya santai, jadi kesantaiannya itu juga bisa menular ke orang lain.
Gue gak tau si itu bener apa enggak, tapi itu yang gue rasain. Emang gue meledak-ledak, tapi karena dia berusaha tetap santai dan sabar, alhasil gue jadi diem juga, ngomongnya jadi sabar juga (walau tetep 10.000 kata per menit tapi intonasinya mulai kalem)

Coba bayangin kalau Choleric pasangan sama Choleric :

Cewe : "Pokoknya aku gak mau tau, kamu harus chat aku kalau kamu mau pergi ama cewe lain!!"
Cowo : "Ya aku barusan lupa! Lupa! Namanya orang lupa ya gak inget! Kamu gak suka punya pacar pelupa? yaudah putus aja!!"
Cewe : "OKE KITA PUTUS"

Malemnya si cewe sesenggukan sambil dengerin lagu galau.

Keras kepala ketemu Keras kepala ya nggak ketemu
Kecuali ada keajaiban salah satu nya tiba-tiba berubah jadi lembut kepala.


Nah tadi gue ribut-ribut lewat telepon, segitunya ribut, si Phlegmatic terdengar santai dan sesekali bercanda. Gue kesel sih, tapi jadi ketawa juga. Contoh kalimatnya yang bikin ketawa
"Jadi aku masih salah nih?" 
dan gue otomatis jawab dengan ketawa "Lah jadi kamu berharap berubah jadi gak salah?"


Trus segalak-galaknya Phlegmatic, tetap aja gak galak bagi Choleric. Contoh marahnya Phlegmatic :

"Aku paling males ribut lewat telepon busuk banget!" Entah apa nyambungnya telepon ama busuk, tapi itu bikin gue ketawa

"Aku paling gak suka deh kalau aku minta maaf trus kamu bilang 'GAK' nya cepet, jawabnya 'Ntar dulu' kek, 'Nanti' kek, jangan langsung Gak Gak aja udah kayak gamau ribet gitu" Jadi gapapa gak dimaafin tapi jawabnya jangan Gak. kan sama aja boong ya?


Ups tapi kalian jangan salah ya,
Gak berarti Phlegmatic yang penurut dan cinta damai bisa kalian injak-injak dan sepelekan.
Kalau kalian punya cowo Phlegmatic jangan kalian manfaatkan dengan diomelin terus.
Suatu ketika dia marah mungkin bisa lebih mengerikan dibandingkan Choleric . (MUNGKIN)

Intinya di akhir percakapan, si Choleric pun memaafkan juga, dengan jawaban "Nanti dulu ntar"
Bukan karena akhirnya gue kalah karena mentoleransi prinsip yang gue tegakkan.
Tapi karena gue masih ada hati yang baik, apalagi gue kemarin abis ditegor juga dari firman yang gue bahas di blog sebelumnya.

Terlebih dari itu semua, disebabkan oleh karena gue sayang, dan gue berharap si Phlegmatic yang gue cintai ini aja yang nantinya akan terus bersama gue, maka gue akan berusaha untuk membuat dia menjalani prinsip yang gue punya (nah masih berjalan kan Cholericnya? Sangat gigih untuk membuat orang mengikuti peraturannya)


Cukup sekian pembahasan mengenai pasangan Choleric dan Phlegmatic
Soon, aku akan posting tentang pasangan Sanguine dan Melancholic , gue punya gambarannya dan kayaknya itu asik juga buat dibahas.


Oke, i think i have to go now.
Bye Bloggers!
Read more ...

Jumat, 09 September 2016

Forgive Person Who Did Wrong

Hal yang paling gue gak suka adalah tidur dalam keadaan kesal.
Gue juga gak tau kenapa tapi gue adalah tipe orang yang selalu kepikiran sama hal-hal kecil.
Dari hal kecil itu gue sudah memikirkan banyak kemungkinan.
Dan kalau kemungkinannya negatif, pasti gue gak mau abaikan gitu aja.
So, kalau gue kesal karena hal itu, susah bagi gue untuk membiarkan rasa kesal itu ilang begitu aja.

Sama seperti tadi malam,
Meskipun yang dikeselin udah minta maaf, tapi hati sesak gara-gara rasa keselnya masih ada.
Udah berdoa, udah diingetin, gue tetap kesal.
Bahkan gue gak langsung tidur,
Gue duduk di ruang tamu, mandangin jam yang muter gak berenti-berenti, denger lagu, dan nangis.
Mungkin sepele, tapi karena overthinking, kesedihan gue kayak gak bisa dibendung gitu.

Tapi karena capek nangis, akhirnya gue ngantuk juga.
Dan gue tidur -dalam keadaan kesal-

Pagi ini, gue bangun.
Nah, part ini yang gue kesel, bangun tidur gue akan keputer kejadian apa tadi malam, dan gue inget kalau gue lagi kesel, sehingga mood di pagi itu akan jadi berantakan.
Tapi gamungkin karena gak mood trus gue gak ngapa-ngapain.

Seperti biasa, gue akan ambil buku catatan, buku renungan, alkitab dan hape.
Gue renungan pagi.
Awalnya gue masih biasa aja baca alkitab.

Sampe gue di 2 Korintus
Firman di 2 Korintus itu bicara tentang perasaan Paulus kepada Jemaat di Korintus.
Bagaimana dia kasihtau kalau dia itu sayang sama jemaat di korintus, walau suratnya di 1 korintus itu terbilang tegas dan keras, atau bahkan menimbulkan perasaan dukacita bagi jemaat.

Nah yang menarik perhatian gue di 2 Korintus 2 perikop nya Forgive Person Who Did Wrong, disitu Paulus menjelaskan kalau sampe ada orang lain yang menyebabkan dukacita bagi jemaat korintus, apa yang harus jemaat korintus lakukan ?



Gue baca di versi ERV 
Jadi mungkin sebagian besar dari jemaat korintus memberikan hukuman ke orang yang menyebabkan kesedihan itu, tapi pesan Paulus, mereka harus memaafkan, menyemangati, dan menunjukkan kasih mereka ke orang itu supaya orang itu gak sedih dan mneyerah. Jadi kita gak kalah sama Iblis.

Gue agak keselek (gatau keselek sama apa) 
Tapi gue kena banget sama firman ini, disaat gue lagi kesel karena seseorang berbuat salah, dan gue berpikir untuk tidak memaafkan hal itu, dan gak mau ngehubungin, akhirnya gue tersadar. Bahwa setiap orang pasti berbuat salah.
Cuman, kalau aku sekarang langsung maafin, nanti diulang lagi?
Akhir nya aku berdoa sama Tuhan

"Tuhan, di firman itu gapapa kan di kasih hukuman, aku mau kasih hukuman, supaya dia gak melakukan kesalahan itu lagi, aku janji, aku akan maafin, aku akan semangatin, aku akan lebih tunjukkin kalau aku mengasihi dia, jadi dia bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, dan yang penting, Iblis gak menang atas aku"

Setelah gue bilang amin, gue menjalani hari dengan hilangnya rasa kesal.
Gue cuma kasih hukuman sementara sama sumber kekesalan gue dan setelahnya, gue memaafkan, dan gue gak terlalu ambil pusing sama kesalahan itu,
Yang penting, gue terus bimbing supaya bisa jadi lebih baik, dan gak ulangin kesalahan yang sama. itu juga termasuk menunjukkan kasih kok :)

Read more ...

Minggu, 04 September 2016

Nightmare - Part 2

Sarah melanjutkan pekerjaan nya dan tidak mengambil pusing, silakan saja kalau Danny mau marah. Yang penting Sarah tidak melakukan kesalahan apapun. Hingga jam pulang, Sarah tidak ngobrol dengan Danny, seperti yang biasa dia lakukan.

Sarah membereskan barang-barangnya, mematikan computer dan bersiap pulang.
Saat hendak bergegas , dia melihat meja Danny sudah bersih.
“El, Danny mana? Udah balik?”
“Kayaknya udah deh, tadi kayaknya buru-buru gue liat” jelas Elaine
Sarah gak melihat kapan Danny pergi, kemudian pergi keluar kantor. Sesampainya diluar dia melihat Danny sedang bersama Joshua. Tidak seperti sedang melabrak, namun muka keduanya terlihat serius. Sarah berpikir untuk menghampiri mereka, namun mengurungkan niatnya. Tak mau ambil pusing dengan masalah yang dia sendiri tidak merasa membuatnya
Sarah pulang, segera menuju kamarnya yang nyaman dan tertidur. Tengah malam, ia terbangun dan terkejut melihat 15 missedcall dan 28 unread messages. Semuanya dari Danny, ia mencari dimana Sarah. Sarah mengetik balasan untuk Danny
‘Hai dan, sorry aku pulang kerja langsung tidur’
Tak lama terlihat status Danny menjadi online. Namun tidak ada balasan
‘Dan, I know you read my chat, just reply it’
Online lagi, tidak dibalas
‘Aku gak ngerti lagi sama kamu dan, selalu ilang gak jelas’
Kali ini tidak delivered. Sarah benar-benar kesal, akhirnya memutuskan untuk kembali tidur.

Keesokan harinya, Sarah dan Danny bertemu sepulang kerja. Mereka pergi ke tempat makan yang biasa mereka singgahi, untuk ngobrol serius, karena suasananya enak dan nyaman.
“Dan, aku rasa kita sudahin aja ya. Soalnya aku capek, tiap hari aku harus pusing cari kamu dimana, kamu ngapain, aku butuh kamu gak ada, pusing aku Dan, perasaan aku juga udah gak nyaman”
“Kamu kenapa ngomong kayak gitu?”
“Ya karna ini yang aku rasain”
“Apa harus putus?”
“Ya aku gak punya jalan lain, aku gak yakin kamu berubah karena udah sering banget, apalagi walau aku marah kamu tetep ulang lagi. Trus hal-hal kayak gitu bisa memicu berantem juga, kayak Josh jadi bantuin aku lah, apa lah. banyak lagi lah hal-hal yang mungkin bisa terjadi gara-gara itu”
Danny memandang kosong, kemudian melanjutkan obrolan
“Oke, aku gak mau memaksa kamu jika sudah gak nyaman” Ujar Danny. Jawaban Danny ngebuat Sarah kaget. Dia gak ada usaha untuk membuat Sarah nyaman, atau meminta maaf, atau berusaha jadi lebih baik, Danny hanya setuju atas keputusan Sarah. Sarah baru inget, Danny adalah tipe orang yang nurut, tidak mau memperpanjang masalah, tapi Sarah gak nyangka kalau dalam hal ini juga Danny nurut.

Akhirnya Sarah pulang, dengan galau. Dia mulai menyesali keputusannya, tapi tidak mau mengatakan kepada Danny kalau dia menyesal. Sarah melanjutkan aktivitasnya, terkadang nangis kalau lagi galau banget, kadang pergi main sama teman-teman biar lupa kalau dia lagi galau.

Tiba-tiba….

GEDEBUKKK!!!!!!!!
GUE KEBANGUN!! DENGAN AIR MATA DI PIPI GUE!
Ternyata, Serentetan kejadian dari Tambal Ban sampe Putus Cinta itu semuanya MIMPI…


Itulah mimpi. Aneh, gak nyambung
Gue bisa mimpiin hal-hal yang gak masuk di akal gue,
BTW, Sarah, Danny dan Joshua adalah nama samaran.
Kenyataannya Sarah itu gue, sisanya yaaaa isi sendiri aja lah yaaaa
Tapi gue serius bangun tidur tuh gue nangis -_-


Read more ...

Sabtu, 03 September 2016

Nightmare - Part 1

"Ayo dong angkat .. Pleaseeee!" Sarah menggerutu.

Sudah 10 menit dia menelepon Danny -kekasihnya- namun tidak diangkat.
Dipandanginya jam tangannya, menunjukkan pukul 9 malam

"Sudah malam, aku harus gimana nih?"

Dengan putus asa Sarah memandangi ban motor nya yang bocor, sambil berpikir untuk mendorong motornya atau tidak
Tidak masalah bagi nya untuk mendorong motor, yang jadi masalah adalah waktu sudah malam dan dia merasa tidak aman.

"Kutelepon Danny sekali lagi, kalau tidak diangkat juga aku dorong motor ini!"

Sarah mulai mengetik nomor Danny dan meneleponnya. Tidak ada jawaban, Sarah tetap menunggu karena dalam hatinya dia juga tidak ingin mendorong motornya, sampai tiba-tiba dari kejauhan datang seseorang.

"Hei sarah! Ban motornya bocor? Didepan sana ada tambal ban!" Tegur Josua, teman kerja Sarah, teman kerja dan teman dekat Danny juga.

"Ya aku tau Josh, tapi lumayan jauh dan aku agak takut dorong motor sendiri"

"Sini biar aku aja yang dorongin"

"Serius? Thanks ya"

Joshua meninggalkan motornya di minimarket dekat situ. Kemudian Sarah dan Joshua berjalan menuju tukang tambal ban. Di jalan Joshua mulai bercerita

"Sebenarnya, yang kayak gini-gini tukang tambal ban sengaja menyebar paku di pinggir jalan, makanya ga lama setelah ban bocor, pasti ada tukang tambal ban"

"Serius Josh? Ngeselin banget ya, mereka ngerugiin orang untuk nguntungin diri sendiri!!"

"Yah namanya juga tuntutan hidup"

Sarah mengernyit, apa jangan jangan Joshua mantan tukang tambal ban?
Akhirnya mereka sampai dan menambal ban, Sarah agak cuek karena malas mendengar cerita Joshua tadi, dia merasa dirugikan

"Sar, senyum"

Sarah tersenyum dengan terpaksa. Setelah selesai, Joshua membayar kepada tukang tambal menyerahkan kunci motor kepada Sarah.

"Berapa josh?"

"Santai aja, aku bayarin. Anggap aja permintaan maaf tukang tambal ke kamu, supaya kamu gak jutek lagi sama mereka"

"Hah? Kamu aneh banget sih, hahaha. Yaudah aku traktir makan aja yuk, udah makan?"

"Nah itu boleh, yuk!"

Mereka akhirnya pergi ke tempat makan yang masih buka di malam itu, makan dan bercerita. Tiba-tiba sarah ingat Danny, dan mengecek handphone nya. Tetap belum ada respon. Memang Sarah tidak sms. Tapi missed call nya pun tidak ada respon. Sarah menghela nafasnya. Danny selalu begitu, hilang dan tak ada kabar.

"Yaudah balik yuk Josh, udah jam 10 nih. Aku kemaleman"

"Anter aku ke minimarket yang tadi ya, kan motorku disana"

"Oke"

Kemudian Sarah mengantarkan Joshua ke minimarket tersebut dan pulang

Sesampainya dirumah, Sarah mengecek handphone nya.
Ada 1 sms, mungkin dari Danny.
Sarah membuka nya, ternyata dari Josh.

'Sarah, terimakasih ya udah traktir dan ngobrol sama aku, aku gak tau kenapa aku harus berterima kasih, tapi aku merasa senang karena bisa bareng sama kamu, walau cuma sekedar ngobrol dan bercanda'

Sarah bingung, apa maksud Joshua. Dia membalaskan pesan nya

'Maksud kamu Josh? Biasa aja kali..'

Tak lama masuk pesan

'Aku gak pernah bermimpi bisa sedekat tadi dengan kamu, dan itu baru terjadi hari ini'

Dengan perasaan bingung Sarah menjawab

'Josh kamu hanya membantuku menambal ban, dan aku hanya traktir makan. Jangan berlebihan'

Sarah kemudian mematikan handphone nya dan tidur.

* * * * *

Keesokan harinya, Sarah berangkat kerja.
Saat masuk ke gedung kantor dia berpapasan dengan Danny yang keluar dari gedung

"Hai Dan" sapaan Sarah terhenti karena Danny hanya meliriknya dan melengos pergi keluar.
Sarah bingung karena seharusnya dia lah yang marah karena tadi malam Sarah sama sekali tidak direspon.
Tiba-tiba dia teringat sms Josh semalam.
Apa Danny marah karena hal itu?
Tapi Sarah kan belum memberitahukan nya?
Atau Josh yang bercerita?

Ah biar sajalah, Sarah masuk ke ruangan kerjanya dan menyalakan komputernya

"Sar, aku taro berkas di meja ya" kata Elaine

"Berkas apa el?"

"Dari Josh, itu tambahan"

Sarah memandang berkas itu, tapi tidak dibukanya. Mungkin setelah makan siang aja dia buka

Tiba-tiba datang Danny dan duduk di meja nya. Meja kerja Danny dekat dengan Sarah
Sarah mulai memanggilnya

"Danny! Oi! Kamu kenapa?"

"Aku gak apa2. Nanti siang makan bareng ya"

Sarah mengangguk. Sarah selalu seperti itu. Walau marah dan kesal, kalau ketemu Danny akan hilang amarahnya.

Tiba jam makan siang, Danny mengajak Sarah makan di kantin

"Ayo sayang kita makan"

Sarah agak bingung apa dia ga tau semalam aku menelepon dia meminta pertolongan?
Sesampainya di tempat makan, Sarah mulai bertanya

"Dan, kamu ga cek handphone mu?"

"Belum sempat, kenapa?"

"Semalam aku minta tolong ban motor ku bocor, jam 9 malam tapi kamu tidak angkat2"

"Maaf sayang, kamu tau kan handphone aku agak ngadat. Jadi gimana semalam?"

"Yah, aku dibantu Josh" Sarah menjelaskan dengan tidak semangat karena Danny seperti memandang enteng kejadian semalam. Sementara Sarah tidak ingin marah marah terus

"Coba aku pinjem handphone mu?"

Sarah memberikan handphone nya. Danny mengambil dan menyalakannnya.
Sarah cuek dan makan, dia pikir tak perlu ada yang dicurigain di handphone nya.
Segera setelah handphone Sarah menyala, ada SMS masuk.

"Aku harus sedih gak ya?" Ujar Danny
Sarah kaget menatap Danny yang berkaca-kaca. Dan dia teringat setelah dia sms Josh semalam, dia langsung mematikan handphone. Mungkin itu sms dari Josh

"Ada apa sayang? Coba aku lihat handphone nya?"
Sarah mengambil handphone nya dan melihat sms Josh disitu

'Tapi aku bisa merasakan kamu senang aku bantu'

Ashhh. Joshua aneh banget. Bisa-bisa nya dia sms seperti itu. Dan seharusnya aku juga memastikan dulu sms Josh terakhir apa agar dia tidak sms lagi

"Sayang, kamu sedih? Kamu boleh marah, tapi apa harus kamu marah sama aku? Aku tidak berbuat salah. Kamu tidak bisa aku hubungi. Joshua membantu aku jg bukan karena aku hubungi dia, tapi dia kebetulan lewat. Aku traktir dia makan memang karena aku mau bilang makasih aja, itu sebabnya. Coba kamu bisa aku hubungi, gak perlu Josh yang bantu aku" terang Sarah

"Iya , aku tidak kesal sama kamu. Aku kesal dengan Josh. Dia teman baik ku. Tapi kenapa bisa-bisanya dia sms kamu kayak gitu?"

Danny tidak menyelesaikan makannya. Dia pergi ke kasir untuk membayar makanannya dan menunggu Sarah selesai makan, kemudian kembali ke ruangan kerjanya.

Sesampainya di ruangan kerja, Sarah menatap berkas yg tadi diberikan Josh
Dan dia lihat, memang itu kerjaan yang harus sarah kerjakan, tapi belum pernah ada sebelumnya.

Sarah menelepon extension Josh

"Halo josh?" Ujar sarah. Danny seketika menengok dan memperhatikan
Ah, Danny cemburu. Pikir Sarah.
"Josh aku mau tanya, kenapa berkas ini datang dari kamu dan baru sekarang kamu kasih?"

"Gak apa2 itu memang tanggung jawabku. Mungkin sekarang aku yang akan mengurus berkas2 itu sebelum aku berikan ke kamu"

"Oke thanks"

"Sarah tunggu!"

"Apa?"

"Sms ku? Dibaca Danny?"

"Sudah dulu ya" Sarah mematikan telepon nya. Dia tidak mau membicarakan hal diluar kerjaan dengan telepon kantor.
Tak lama telepon berdering. Sarah tidak mengangkatnya. Dia pikir itu Josh

"Sarah angkat teleponnya" ujar Danny

"Halo? Kenapa harus telepon?"

"Tadi Joshua ngomong apa?"

"Aku cuma tanya kerjaan aja sama dia"

"Dia tidak menanyakan yang lain?"

"Enggak"

"Oke" Danny mematikan telepon nya.

Read more ...