Kamis, 25 Desember 2014

Sendiri

Aku membuka mata dengan sebuah kenyataan
Kenyataan bahwa aku menjalani hidup baru yang sangat berbeda dengan sebelumnya

Aku mulai menyibukkan diri dengan segala kegiatan
Aku tidak izinkan satu waktu pun kosong didalam otakku
Karena jika itu terjadi, aku akan berubah jadi pendendam yang menyimpan benci
Benci yang tak seharusnya aku simpan, karena mendapatkan benciku saja dia tidak patut
Dia tidak patut menerima apapun dariku


Telepon ku berbunyi
Kupandangi layar handphone dengan geram
Telepon dari nomor yang tidak kusimpan, tapi aku tahu betul siapa pemilik nomor itu
Entah apa yang ada didalam pikirannya sampai masih mencoba menghubungiku?
Apa dia tidak bisa menerima kenyataan yang dia buat sendiri?
Apa dia tidak bisa paham bahwa cinta bukan berarti aku bisa menerima keadaan?
Apa dia satu-satunya pria gila yang berpikir bahwa hatiku adalah mesin yang bisa diatur?

Ku reject telpon nya
Tak lama masuk sebuah pesan
"Setidaknya balas pesanku, kalau kamu tidak mau angkat telpon ku"
Aku menangis. 

Apapun alasannya, aku tidak mau mengenalnya lagi sampai kapanpun.

Tapi...

Bukan hanya dengan dia
Aku juga tidak ingin mengenal siapapun
Aku hanya ingin denganku,


Sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar