Minggu, 01 Februari 2015

Sang penurut

Dengan terpaksa kuangkat teleponku.
Aku butuh istirahat, namun deringan ini serasa membuat ku gila.

"Izinkan aku datang kesitu, melihat keadaanmu, aku tidak ingin menyesal nanti"
"Maksud mu aku bakal mati?"
"Jangan bicara seperti itu!!"
"Trus maksud kamu tidak ingin menyesal??"
"Mungkin ini akan jadi terakhir kalinya aku bisa merawat mu saat sakit"
"Aku sudah bilang, pergi, gak perlu ada perpisahan! Disini banyak yang merawatku, aku tidak butuh kamu"

Kudengar tangisnya dibalik telepon.
Kusudahi panggilannya.
Menggenggam Ponsel ku saja lemas, apalagi mendengar tangisnya.

Handphone ku berbunyi tanda pesan masuk
"Aku janji gak akan menghubungimu lagi, kesembuhanmu yang paling penting, aku mohon"

Kenapa dia memohon aku sembuh?
Kalau aku bisa, sudah kulepas semua peralatan yang menempel ditubuhku ini, dan aku lari dari tempat ini
Memakan semua makanan yang aku mau, main kemanapun aku bisa
Kesembuhan hanya dari Tuhan, bung.

Perlahan air mataku menetes.
Pembicaraan tadi membuatku mengingat saat terakhir kali dia memperhatikanku saat aku sakit.
Dia tidak akan membiarkanku berangkat kerja dan pergi kekampus sendiri.
Dia akan telepon aku setiap jam makan untuk memastikan aku tidak makan pedas.
Bahkan sering dia datang hanya untuk memberikan makanannya, yang dia bilang sehat.
Aku cepat sembuh, mungkin karena gembira diperhatikan.

Tapi tidak kali ini,
Aku tidak ingin dia memperhatikanku
Dia lah yang menyebabkan ini terjadi, penyakit tidak disembuhkan oleh virus itu sendiri, tapi oleh obat
Kali ini, bukan dia obatnya.

Tiba-tiba handphone ku berbunyi lagi
"Aku ingin membawakan semua hal ini ketempatmu, tapi kamu tidak mengizinkan ku. kamu baca artikel ini ya. Disitu dijelaskan semua apa aja yang bisa bikin kamu cepat sembuh. Bilang ke semua yang mau jenguk kamu, untuk bawain itu"

Aku kembali menangis
Bisakah hentikan semua ini? 

"Kalau kamu terus menerus hubungi aku, aku pastikan aku tidak akan bisa pulang"

Tidak lama, status online di jendela chat nya menghilang. 
Kuperhatikan terus sampai beberapa menit, tidak juga online.
Aku tersenyum hambar,
Dia selalu begitu, menuruti apapun keinginanku yang penting aku sehat dan tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar